Kamis, 27 September 2012

SEJARAH SINGKAT MATHLAUL ANWAR


Di tengah kemiskinan, kebodohan dan kejumudan yang diselimuti pula oleh kabut kegelapan dan kebingungan (poek mongkleng), muncullah seberkas sinar harapan yang diharapkan akan membawa perubaha di hari kemudian.


Tersebutlah K.H Entol Mohammad Yasin yang baru kembalidari menghadiri rapat yang diselenggarakan di Bogor oleh para ulama yang mendambakan kehidupan umat yang lebih baik. Gerakan ini dipelopori oleh Haji Samahudi dalam rangka mendirikan Syarikat Dagang Islam (SDI) pada tahun 1908 M. Beliau mendatangi rekan-rekan ulama yang ada disekitar Menes, antara lain Kyai H. Tb. Mohammad Sholeh dari kampung Kanangan dan bebrapa orang kyai lainnya dengan tujuan bermusyawarah dan bertukar pikiran, yang akhirnya melahirkan kata sepakat untuk membentuk suatu majelis pengajian yang diasuh bersama. Pengajian ini juga dijadikan lembaga mudzakarah dan musyawarah dalam menanggulangi dan memerangi situasi gelap gulita dengan harapan muncul seberkas sinar, yang kemudian menjadi nama MATHLA'UL ANWAR (Bahasa Arab, yang artinya tempat lahirnya cahaya)

Selengkapnya para pendiri Mathla'ul Anwar:

·         Kyai  Moh. Tb. Soleh
·         Kyai  E.H. Moh Yasin
·         Kyai Tegal
·         Kyai H. Mas Abdurrahman
·         K.H. Abdul Mu’ti
·         K.H. Soleman Cibinglu
·         K.H. Daud
·         K.H. Rusydi
·         E. Danawi
·         K.H. Mustagfiri

Untuk mengoptimalkan peran Islam dalam memecahkan persoalan kebangsaan, para kyai mengadakan musyawarah dibawah pimpinan KH. Entol Mohamad Yasin dan KH. Tb. Mohamad Sholeh, serta para ulama yang ada di sekitar Menes, bertempat di kampung Kananga. Musyawarah mengambil keputusan untuk memanggil pulang seorang pemuda yang sedang belajar di Mekkah al-Mukarromah yang berguru kepada seorang guru besar yang berasal dari Banten yang bernama Syekh Mohammad Nawawi al Bantani, seorang pemuda tersebut beranama KH. Mas Abdurrahman

Pada 10 Ramadhan 1334 H, bersamaan dengan tanggal 10 Juli 1916 M, para kyai mengadakan suatu musyawarah untuk membuka sebuah perguruan islam dalam bentuk madrasah pada 10 Syawal 1334 H/9 Agustus 1916 M. Sebagai Mudir atau direktur adalah KH. Mas Abdurrahman bin KH. Mas Jamal dan Presiden Bistirnya, KH. E. Moh. Yasin dari kampung Kaduhawuk, Menes, serta dibantu oleh sejumlah kyai dan tokoh masyarakat di sekitar Menes

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar